ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Etnik Rohingya sudah berabad-abad lamanya menempati teluk
Benggal. Di seberang barat wilayah kehidupan mereka dihuni oleh bangsa
Bangladesh dan di timur bangsa Burma.
Sebelum Burma merdeka 1942 oleh kerajaan Inggris, etnik
Rohingya telah menghuni lama di wilayah rakhine yang sekarang disebut Rakhine
State. Mereka adalah suku Benggal penghuni selatan dan penghuni utara suku
bangsa austro Asia atau Thai Khadal yang kebanyakan menyebut suku bangsa Sino
Tibetian.
Demikian diceritakan komisioner Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM), Natalius Pigai dalam keterangannya kepada redaksi, Minggu
(3/9).
Namun kini, mereka terusir dari negerinya. "Apa yang
salah dengan mereka sehingga ribuan etnik Rohingya terusir dari negerinya,
Rakhine State," tanya Pigai.
Saat ini ribuan manusia perahu menyeberangi samudera India,
teluk Bengali dan laut Andaman yang terkenal ganas hanya untuk mencari hidup
dan kehidupan.
Di saat suasana tragedi bangsa muslim Rohingya menurut
Pigai, sangat naif jika Indonesia diam seribu bahasa. Jokowi berpangku tangan,
bahkan ia menangkap kesan membiarkan tanpa intervensi kemanusiaan.
"Kita tidak mampu melakukan perang diplomatik dengan
Myanmar. Seharusnya kita tingkatkan tekanan diplomatik untuk menghentikan
kejahatan kemanusiaan terhadap umat muslim oleh pemerintah Myanmar,"
tegasnya.
Pigai mengingatkan, politik luar negeri Indonesia adalah
aktif,dalam artian dalam menciptakan perdamaian dunia. Sebagai negara ASEAN dan
muslim terbesar dunia, Pigai mengatakan, pemerintah Indonesia jangan takut
mengambil risiko untuk menekan pemerintah Myanmar.
"Sekali lagi pemerintah jangan takut tekan pemerintah
Myanmar hanya karena terikat dengan traktat ASEAN yang non intervensi urusan
domestik," imbuh Pigai.
Pada saat ini, lanjut Pigai, Jokowi harus belajar dari
pengalaman Sukarno. Meskipun Sukarno dan Nehru adalah sahabat karib, bahkan
India menyediakan tanah lima hektar untuk kantor kedutaan besar di Canakyapuri,
New Delhi. Namun ketika perang India dan Pakistan 1965, Sukarno mengirimkan
kapal perang Angkatan Laut bantu Pakistan karena solidaritas Islam. Bahkan
Sukarno memusuhi Nehru yang sahabat karibnya.
"Kalau Sukarno saja bisa meninggalkan persahabatan
dengan Nehru India, mengapa Jokowi begitu takut terhadap Myanmar? Apakah Jokowi
memang membawa agenda internasional untuk menghancurkan umat muslim? Mengapa
tidak bisa mengambil sikap tegas dengan memutuskan hubungan diplomatik?"
kata Pigai.
Pigai menambahkan, semua negara di dunia ini memiliki
kewajiban untuk memerangi kejahatan kemanusiaan sebagai tindakan yang tidak
disukai umat manusia di dunia (hostis humanis generis).
"Oleh karena itu tidak ada yang salah kalau bangsa ini
secara aktif berperan menciptakan perdamaian abadi di Myanmar Selatan,"
tukas Pigai.
Sumber : muslimbersatu
BACA INI: GEMPAR...!!! BARU SAJA..!! BURU BIKSU RADIKAL WIRATHU, PRESIDEN TURKI KIRIMKAN KAPAL PERANG BERISI PASUKAN KHUSUS ,WALAO SAMPEK KE LUBANG TIKUS
Silahkan KLIK LIKE

0 Response to "HEBOH...!!! Natalius Pigai: Mengapa Jokowi Begitu Takut Terhadap Myanmar..??? INI ALASANYA..."
Posting Komentar