ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Keberadaan kesatuan Tentara Nasional Indonesia atau TNI
(dulu bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ABRI) tidak bisa
dilepaskan dari para kiai dan santri. Sebab, para kiai dan santrilah yang
secara faktual membentuk dan mendirikan TNI.
Menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, setidaknya
ada empat peristiwa sejarah bangsa yang membuat TNI dan kiai serta santri tidak
bisa dipisahkan. Peristiwa pertama adalah proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia pada 17 Agustus 1945.
"Indonesia bisa merdeka karena perjuangan dipimpin para
santri dan ulama-ulama," kata Gatot saat memberikan sambutan pada acara
Tahlil Umum di Makbaroh Gajah Ngambung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat,
Sabtu (15/4).
Tahlil umum tersebut merupakan salah satu rangkaian Haul
Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon 2017. Acara ini
juga sempat dihadiri Presiden Jokowi Widodo pada Kamis (13/4).
GEMPAR...!!!! BARU SAJA KATA Panglima TNI Khawatir Bangsa Indonesia dalam Ancaman BENARKAH...??
Panglima melanjutkan, santri dan ulama/kiai berjuang
bersama-sama dengan umat agama lain, yakni nasrani, hindu, dan budha serta
berbagai macam suku bangsa, hingga Indonesia bisa meraih kemerdekaannya. Mereka
semua bahu-membahu sampai akhirnya Indonesia bisa menjadi bangsa yang hebat
sekarang ini. Karena itu, perjuangan para kiai dan santri yang merupakan
perjuangan dengan mengorbankan keringat, harta benda, bahkan nyawa, haruslah
terus diingat bangsa Indonesia.
"Itu semua tidak bisa dipungkiri dan pada saat itu TNI
belum ada," kata Panglima.
Peristiwa selanjutnya adalah peristiwa 5 Oktober 1945 atau
hari kelahiran TNI. Saat itu, TNI lahir karena perjuangan para ulama. Bahkan,
para pemimpin di tubuh TNI pun adalah para ulama. Banyak panglima kodam kala
itu dipimpin oleh mantan pejuang-pejuang yang juga kiai. Setelah sukses
memperjuangkan kemerdekaan, sebagian kiai pulang ke pesantren dan sebagian
lainnya bersama para santri memilih menjadi tentara.
"TNI pertama kali dipimpin Jenderal Sudirman dan oleh
anak buahnya dia dipanggil kiai. Jadi TNI tidak bisa lepas dari para kiai, para
ulama, dan para santri," katanya.
Peristwa ketiga yang menegaskan keterikatan TNI dan para
kiai serta santri adalah keluarnya resolusi jihad yang digaungkan KH Hasyim
Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Tepat satu bulan setelah proklamasi
kemerdekaan, Pemerintah Indonesia mendapatkan kabar bahwa tentara penjajah akan
membonceng pesawat sekutu untuk kembali ke Indonesia.
Penjajah belum rela Indonesia merdeka dan merencanakan
serangan pada Oktober 1945. Dalam kondisi kebingungan dan TNI belum terbentuk,
pada 17 September Presiden Sukarno meminta fatwa kepada KH Hasyim Asy'ari. Pada
akhirnya keluarlah fatwa jihad pada 22 Oktober yang menyatakan bahwa perjuangan
membela Tanah Air merupakan suatu jihad fi sabilillah.
Selanjutnya, kata Panglima, dengan resolusi jihad itulah
maka terjadi peristiwa keempat, yakni peperangan di Surabaya pada 10 November
1945 yang kini dikenal dengan Hari Pahlawan.
"Pada hari pahlawan, para kiai ikut berjuang bersama
santri. Dengan kehebatan para kiai semuanya bisa diatasi," ujar Panglima. Sumber : umatuna.

BalasHapusBIKINKEPALANG
BERITASEGAR
SEPUTAR JUDI ONLINE
Judi Sakong 99
Sakong Online Indonesia
Bandar Sakong Terpercaya
Cara Hack Judi BANDARQ Di Klikbandar88
APLIKASI HACK SAKONG
JACKPOT MUDAH SAKONG
TIPS PILIH AGEN JUDI